Langsung ke konten utama

Postingan

Hujan, Kepompong, Kupu-kupu

Kau tau kenapa aku menyukai hujan? Mungkin ini bukan hal penting untuk kau ketahui, tapi entah mengapa aku sering kesulitan melupakan momen yang (bagiku) berharga. Aku masih ingat di tahun lalu, di suatu malam yang sedang dibasahi hujan di bulan mei. Aku sedang berada di kamar temanku, mengerjakan tugas dadakan dari rumah sakit tempatku belajar. Hand phone ku bergetar, ternyata ada pesan darimu. Kau mengabarkan bahwa kau mendapat pekerjaan, kau diterima di sebuah perusahaan. Aku senang sekali, kamu si kepompong telah menjadi kupu-kupu dan akan terbang ke kota lain untuk mengepakkan sayapmu. Doaku selalu bersamamu. Aku juga senang, karna ketika kau mengabariku, aku merasa menjadi bagian dari hidupmu. Terima kasih. Ah aku jadi malu padamu. Aku masih menjadi kepompong di sini, aku masih harus belajar untuk menjadi kupu-kupu sepertimu. Beberapa bulan lagi aku akan menjalani ujian kelulusan, doakan aku ya. *** Tahun ini di suatu malam yang diguyur hujan di bulan November, ...

Buku tentang Cinta

Setahun belakangan, karena alasan tertentu, aku benar-benar menghindar dari segala yang berbau cerita cinta. Dimulai dari novel, lagu, film, hingga dalam percakapan. Tapi di suatu sabtu, ‘kecelakaan’ itu terjadi. Di awali dari bangun pagi dan berangkat kerja setelah sarapan. Sabtu adalah hari wajib sarapan, kalau kata ka intan mah, ‘ monster day ’. Sabtu adalah hari dimana pasien akan membludak karena beberapa tempat kerja sudah diliburkan. Dan hari ini terlewati. Ketika mengambil tas di loker, seorang rekan kerja menyapaku, “ selamat ya, ibu PJS, karena sudah melewati hari ini .” Aku hanya tersenyum, I have nothing to reply that. Aku kemudian mengajak zaki ke Rumah Buku. Entah ada event apa *aku lupa*, pokoknya kalau membeli buku sejumlah harga di atas Rp.300.000, dapat diskon 30%. Sayangnya hanya berlaku sampai jam 7 pm. Sesampainya di rumah buku, langsung sholat magrib. Lantas aku dan zaki bergentayangan mencari buku. Buku yang sudah direncanakan tidak ditemukan. Waktu ...

Sekedar Numpang

Ketika menginap di rumah orang lain, tentunya (kalau masih waras), kita tidak akan bertindak seenaknya. Kita akan mengikuti aturan si pemilik rumah agar tidak menimbulkan kesan tidak baik. Atau setidaknya secara tidak langsung, itulah salah satu cara menunjukkan rasa terima kasih kita terhadap kebaikan pemilik rumah. Karena menyadari bahwa diri ini hanya sekedar numpang. Demikianlah ketika Allah memberikan kesempatan tinggal di Bumi. Bumi ini milik Allah. Menjalankan hidup yang sesuai dengan aturan Allah adalah salah satu cara bersyukur kepada-Nya. Di sini hanya sementara, sekedar numpang berteduh. Sekedar singgah menjalani ujian, lantas ‘dipanggil’ pertanda waktu ujian telah berakhir. Allah pun telah berfirman, " Dan tidaklah kehidupan dunia ini selain dari senda gurau dan permainan belaka. Dan sungguh negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka, tidakkah kamu memahaminya? " - QS. Al-An'am: 32 Bandung, 15 September 2015

Pilihan dan Keinginan

Tidak semua pilihan kita adalah keinginan kita. Dan tidak semua keinginan dapat menjadi pilihan kita. Bisa saja pilihan itu dipilih karena rencana tidak berjalan sebagaimana mestinya, atau karena keadaan memaksa. Sama halnya dengan hidup yang ku jalani saat ini. Pada saat S1, aku bahkan berpikir tidak ingin bekerja di rumah sakit. Namun karena sesuatu terjadi di akhir kuliah pendidikan apoteker, jadilah kini aku bekerja di rumah sakit. Memang pilihanku, tapi bukan inginku. Memilih artinya menerima konsekuensi pilihan itu. Bekerja di rumah sakit berarti siap menjalani jam kerja shift. Dampaknya aku jadi jarang dihubungi orang tuaku, karena jam istirahat kami yang berbeda. Jauh dari teman karena jadwal kerja yang berbeda. Libur di saat orang lain sedang tidak libur. Pasangan hidup? Entah darimana datangnya kalau sering pulang dengan pikiran kusut dan mengungkapkan stressnya dengan banyak tidur, kemudian menyadari bahwa aku bukanlah seseorang yang menarik hati. Hehe. Tapi kala...

Nice August

Tik tok tik tok tik tok.. waktu terus berjalan tanpa henti, dan detik terus bergulir. Sudah 8 bulan aku menghabiskan hari-hariku di rumah sakit ini. Pada bulan ke-delapan bekerja, agustus, Allah memberikan kado yang sangat indah. Lewat bu Desy, koordinator pelayanan farmasi, Allah menetapkan aku menjadi penanggung jawab shift untuk tim yang baru. Tim rawat inap agustus terdiri dari fajar, Neng Nur dan Zaki. Meskipun power ranger itu berlima, dan kami hanya berempat, kami tidak kalah keren dibanding power ranger. :) Belum pernah sebelumnya menemukan tim sesolid ini. Di antara kami seperti tak ada jarak. Meskipun aku penanggungjawab shiftnya, kami tidak segan untuk bercanda. Kalau sudah dibully, biasanya aku akan bilang, “ dasar kalian anak durhaka! ” Ah mereka selalu membuatku tertawa. Apapun masalah dalam satu shift, supaya gak stress, kami ketawain aja. Prinsip sesat kami adalah masalah ada untuk diketawain . Wkwk Tapi, dalam urusan kerjaan, kami bisa super serius. Cito ...

Kenapa Menunggu Obat Lama

Hai semua, apa kabar? Seonggok apoteker  yang sedang patah hati, dari sudut kota bandung yang dingin ingin berbagi cerita.  Kenapa nunggu obat di farmasi itu lama? Pelayanan farmasi adalah suatu  proses yang panjang . Ketika resep datang, asisten apoteker mengisi lembar skrining administratif dan apoteker melakukan review terhadap dosis, interaksi, kontraindikasi (termasuk riwayat alergi) dan duplikasi terapi. Resep yang lolos diinput dan dibayar oleh pasien. Asisten apoteker mengambil obat sesuai tracer, disatukan dengan resep dan etiket dalam satu keranjang. Selanjutnya keranjang diserahkan kepada asisten apoteker yang bertugas mengemas obat. Petugas mengemas obat dengan memperhatikan kesesuaian tracer, resep asli dan fisik obat, menempelkan etiket dan menulis expired date. Obat yang sudah dikemas dicek oleh asisten apoteker yang bertugas sebagai petugas cek. Latas diserahkan kepada apoteker ‘petugas serah’ untuk dicek lagi dan diserahkan kepada pasien. Kur...

Ramadhan & Obat Anti Tuberculosis

Dear pharmacist, By the way, ramadhan sebentar lagi. Semoga masih diberi kesempatan untuk bertemu bulan yang penuh rahmat. Siap-siap ngatur jadwal obat pasien yak (padahal sendirinya masih terseok-seok belajar). Salah satu yang ingin saya bahas kali ini adalah terapi tuberculosis atau lebih singkatnya disebut TB. Beberapa hari yang lalu saya mendapat pertanyaan dari seorang perawat, “minum obat anti TB harus pagi atau gimana?” Seperti yang kita tau, terapi TB minimal dijalankan selama 6 bulan. 6 bulan yang terdiri dari fase intensif pada dua bulan pertama dan fase lanjutan pada empat bulan selanjutnya. Untuk pasien TB (kategori 1) dewasa dan tidak memiliki kondisi khusus, akan mendapat terapi HRZE (isoniazid, rifampicin, pyrazinamide, ethambutol) selama 2 bulan, dan HR (isoniazid dan rifampicin) selama 4 bulan. Absorbsi rifampicin dapat ditunda atau diturunkan konsentrasi puncaknya oleh makanan. Sehingga obat TB dalam bentuk kombinasi dosis tetap (KDT) harus diminum pada ...