Langsung ke konten utama

Postingan

Zaki dan Fazar

Mungkin kalimat ini sudah tidak asing lagi di telinga kita, “ dengarkan apa yang disampaikan orang lain, bukan siapa yang menyampaikan ”. Bagiku, kutipan (yang entah dari siapa) ini ada benarnya.  Atas izin Allah, aku dengan sangat beruntungnya bisa dipertemukan dengan asisten yang rada alay (maaf. ahahaa) tapi ternyata sangat menginspirasi. *** Suatu sore yang dingin, aku dan zaki berjalan beriringan, mengarah ke lobby untuk menuju pintu keluar rumah sakit. Aku: jadi ikut SBMPTN tahun ini, zak? Zaki: jadi, bu.. Doain aja. Aku: semoga sukses ya, zak. Mau ngambil jurusan apa? Zaki: mau pertanian, bu. Hehe. Aku: wahh, jurusan papah aku, zak… kenapa? Zaki: karena aku pernah makan beras program raskin, bu… dan itu gak enak. Makanya aku pengen kuliah di jurusan pertanian, biar nanti bisa mengembangkan beras yang enak, tapi dengan harga yang terjangkau. Ahh, zaki membuat hati saya meneteskan air mata haru. *** Kemaren siang Fazar tiba-tiba duduk di sa...

#WeeklyQuestion - 2

Here’s my 2 nd weekly question from Ka Reny: “ What was meaningful story that happened lately in your life? ” Many things happened lately, especially in hospital where I’m working. But now I’ll answer that question by telling a part of my story in fighting for master’s degree. As you knew before, I had registered for Tes Potensi Akademik in Institut Teknologi Bandung at May 28, 2016. I chosen ITB because it’s easily reachable from my home, so I didn’t need to exaggeratedly afraid of coming late as when I took my test in Telkom University. I didn’t want that unexpected experience happened anymore. Two days before the day of the test, I checked ITB’s website to see where my class would be. How surprised I was! The test would be held in ITB Jantinangor, not in Bandung. ITB Jatingangor is further than Telkom University. I was so confused how to get there before 7 AM. I collected information of some alternative transportations included their price and schedule. Finally I m...

#WeeklyQuestion - 1: What did book you ever read and why?

Hello my faithful reader, I’m back~ About 2 weeks ago I made an appointment with Ka Reny. We would make a weekly question for each other and answer it by writing a post in our blog. “what did the book you ever read? And why did you read that book?” Okay this is the first (very late) answer of my weekly question. When I heard that question, some title of books appeared in my brain. And the reason why I read that book is just an usual answer, it’s like, ‘ the book was recommended by my friend ’, ‘ I like the writer ’, ‘ I like the cover ’, ‘ Toko Buku Gramedia gave me big discount price ’, or ‘ I like the synopsis and I became curious ’. Finally, last week I found the answer. My answer is Al-Qur’an. Yes, the book I ever and always read repeatedly, from the beginning until the last page, (insya Allah) till the end of my life. I like The Writer and The Writer is My God. The only one book which doesn’t have invalidity. The book which begs its reader to read, think and do good...

Mengingat Kematian

Kemarin sekitar jam 4 sore, ada seorang pasien yang dibawa ke IGD, tetapi pada akhirnya pasien meninggal dunia. Ruang jenazah dibuka, pertanda siap menyambut keranda jenazah yang sebentar lagi akan didorong keluar dari lift. Ketika bekerja di Rumah Sakit, pemandangan ini bukanlah pemandangan asing. Tetapi kali ini ada perasaan lain yang memenuhi sistem limbik di otak. Pada saat itu jam 4 sore, adzan ashar dikumadangkan 1 jam yang lalu. Entah kenapa hatiku terus bergumam sendiri, sambil melangkah pelan menjauh dari ruang jenazah. Apa jadinya jika ketika maut datang, lantas belum sempat sholat ashar, sedangkan Allah sudah memberikan sekitar 1 jam setelah adzan sebelum maut menjemput Kalau nanti ditanyakan mengapa belum sempat sholat, harus jawab apa… Everyone wants a happy ending, and me either Please guide me to get that happy ending, ya Allah Teringat akan sebuah hadits yang sudah sering nampak di timeline. Abu Hurairah RA meriwayatkan, “Rasulullah SAW bersabda, “ ...

Obat yang Mempengaruhi Pembekuan Darah

Ketika terjadi pembekuan darah di pembuluh darah, maka aliran darah menuju jaringan tujuan akan terhambat. Hal ini dapat menyebabkan stroke, serangan jantung atau cilculatory crises . Sehingga pada pasien dengan risiko stroke dan serangan jantung kerap kali mendapatkan aspirin, klopidogrel atau dabigatran untuk mencegah terjadinya pembekuan darah. Kadang pasien bertanya, “ kan kemaren saya pakai aspirin, nah kenapa sekarang pakai warfarin? ” Ada juga keluarga pasien yang menolak penggunaan streptokinase karena harganya yang jutaan, sehingga pada akhirnya dokter memutuskan mengubah terapi menjadi enoxaparin. Lantas apa bedanya obat-obat tersebut? Karena katanya apoteker itu drugs expert (tapi gak berlaku untuk saya yang gak sengaja menjadi apoteker ini), mari kita review bersama. Antiplatelet Jika suatu atheroma (deposit lemak pada dinding arteri) terbentuk, platelet pada darah akan terstimulasi untuk mengumpul di sekitar area ini dan membentuk pembekuan darah. Kelompok obat...

Review Seminar Pra-Nikah (part. 1)

Hello, selamat datang di bulan desember ~ Sebenarnya posting kali ini ga ada hubungannya dengan bulan desember. Hari ini temu kangen sama ka Intan, sekaligus mewujudkan niat yang sudah lama tinggal di hati. Dari dulu saya ingin sekali ikut seminar pra nikah, syukurnya di hari ini Allah memberikan kesempatan itu. Seminar pra nikah ini diselenggarakan oleh LKD Ikatan Generasi Islam Stikes Dharma Husada Bandung, dengan tema “ Ketika aku jatuh cinta, follow or unfollow? ” Pemateri yang mengisi seminar ini adalah orang-orang keren yang dipilihkan oleh Allah. Berikut ini merupakan materi yang sempat saya catat. Kenapa aku jatuh cinta? – oleh dr. Emma Kaysi Pacaran itu apa sih? Kalau berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia, pacaran adalah hubungan serius antara pria dan wanita menuju jenjang pernikahan. Kegiatan yang disebut ‘pacaran’ berasal dari Sumatra Timur. Dulu sekali, seorang pemuda mengungkapkan perasaan sukanya pada wanita dengan cara menghampiri jendela kamar si ...

Hujan, Kepompong, Kupu-kupu

Kau tau kenapa aku menyukai hujan? Mungkin ini bukan hal penting untuk kau ketahui, tapi entah mengapa aku sering kesulitan melupakan momen yang (bagiku) berharga. Aku masih ingat di tahun lalu, di suatu malam yang sedang dibasahi hujan di bulan mei. Aku sedang berada di kamar temanku, mengerjakan tugas dadakan dari rumah sakit tempatku belajar. Hand phone ku bergetar, ternyata ada pesan darimu. Kau mengabarkan bahwa kau mendapat pekerjaan, kau diterima di sebuah perusahaan. Aku senang sekali, kamu si kepompong telah menjadi kupu-kupu dan akan terbang ke kota lain untuk mengepakkan sayapmu. Doaku selalu bersamamu. Aku juga senang, karna ketika kau mengabariku, aku merasa menjadi bagian dari hidupmu. Terima kasih. Ah aku jadi malu padamu. Aku masih menjadi kepompong di sini, aku masih harus belajar untuk menjadi kupu-kupu sepertimu. Beberapa bulan lagi aku akan menjalani ujian kelulusan, doakan aku ya. *** Tahun ini di suatu malam yang diguyur hujan di bulan November, ...