Langsung ke konten utama

Postingan

Buang Obat dengan Baik dan Benar

Hai, pembaca dimana pun anda berada. Pada tulisan kali ini seorang apoteker yang sedang duduk di sudut kota bandung ingin berbagi ilmu tentang kapan dan bagaimana caranya membuang obat dengan baik dan benar. Langsung aja ya. Kapan obat harus dibuang? Obat yang harus dibuang adalah obat yang telah melewati tanggal kadaluwarsa, telah dibuka dalam waktu yang meleihi BUD ( beyond use date ) dan obat rusak. Masing-masing obat memiliki standar persentase dari kadar yang tertera pada etiket/label. Standar ini telah diatur pada masing-masing monografi obat dalam Farmakope Indonesia. Obat yang telah kadaluwarsa akan memiliki kadar yang tidak memenuhi standar monografinya, sehingga akan memerikan efek yang tidak optimal. Lantas, obat kadaluwarsa tetap tidak boleh diminum karena industri farmasi sudah tidak bertanggung jawab terhadap kualitas obat. BUD adalah batas waktu penggunaan produk obat setelah diracik/disiapkan atau setelah kemasan primernya dibuka/dirusak. BUD untuk oba...

Pulang

Seorang anak sedang asik bermain. Meski matahari sudah hampir di ujung senja, namun sang anak masih saja berlari di pantai, bermain kejar-kejaran bersama teman-temannya. Ia lupa pesan ibunya, “ kau boleh bermain, tapi pulanglah sebelum langit menjadi gelap. ” Anak itu terus berlari, tertawa riang. Hingga akhirnya ketika langkahnya terlalu cepat, ia terjatuh. Lututnya berdarah. Dia menangis, sosok ibu memenuhi pikirannya. Ia ingin ibunya ada di sana dan memeluknya. Dia pun berjalan pulang, sambil menyeka air mata. Ia berharap segera menemui sosok yang penuh kasih sayang, ibunya. Sesampainya di rumah, ia menangis di pelukan ibunya dan menceritakan apa yang ia alami. Luka di lututnya belum diobati, tapi dia sudah berhenti menangis, merasa tenang dan tidak lagi merasa sakit. Tanpa ia sadari, pelukan ibu menaikkan ambang nyeri di otaknya, menyuntikkan rasa damai tanpa perlu ada jarum menembus vena. *** Hidupku pun begini, dipenuhi banyak hal yang membuat aku berpikir, “ a...

‘doain aku ya…’

A     : besok aku interview beasiswa, doain aku ya.. B    : iyaa… semoga sukses ya Keesokan harinya B     : gimana interview-nya, lancar? A     : agak kacau, sih. Tapi doain aja ya, semoga ada rejekinya B     : iya.. aamiin, semoga rejekinya *** Percakapan di atas sering terjadi sehari-hari. Dimana si A sedang mengusahakan dan mengharapkan sesuatu, meminta didoakan, kemudian si B meng-iya-kan. Mungkin kita pernah berada pada posisi si A, bahkan juga si B. Sekitar 3 tahun yang lalu, sebuah renungan terlintas di pikiranku. Saat seorang teman minta didoakan dan aku menjawab ‘iya’, maka bermakna bahwa aku meng-iya-kan sebuah amanah. Dia meminta aku mendoakannya dengan adab berdoa yang semestinya, bahkan pada sebuah momen ketika hanya ada aku dan Tuhanku. Jadi, bukan sekedar ucapan ‘ semoga bla bla bla.. ’ yang ku ketik di sebuah chat room . Aku meyakini bahwa kado terbaik untuk teman adalah...

Untuk Nabil

Posting kali ini ku persembahkan untuk salah satu sahabat terbaikku, Nabilah Nadhif. Sedikit flashback ke awal perjumpaan kita. Kita ketemu pertama kali di Sekolah Farmasi ITB. Awalnya, ku pikir kamu adalah pacarnya Syahrul. Kemana-mana nempel berdua. Aku lupa entah karna ada momen apa, kamu jadi sering nginap di kontrakanku. Aku berpikir, kamu adalah orang keren, karena bisa-bisanya langsung tidur pakai baju yang udah dipakai kemana-mana seharian. Bagiku itu hal sulit, aku takjub! Karena untuk bisa tidur dengan nyaman, aku harus mandi dan pakai baju rumahan. Bahkan ketika kontrakan kerusuhan karena tumpahnya galon, kamu tetap tidur (dengan baju yang belum diganti tentunya). Waktu berlalu dan begitu banyak yang telah kita lewati bersama. Jatuh cinta, patah hati, kuliah, tugas, PKPA, ujian apoteker, ‘ngartis’ di UGM, dan banyak hal lainnya yang kalau dibukukan mungkin akan berjilid-jilid. 3 tahun berlalu, singkat tapi penuh makna. Salah satu momen favoritku adalah ke...

Zaki dan Fazar

Mungkin kalimat ini sudah tidak asing lagi di telinga kita, “ dengarkan apa yang disampaikan orang lain, bukan siapa yang menyampaikan ”. Bagiku, kutipan (yang entah dari siapa) ini ada benarnya.  Atas izin Allah, aku dengan sangat beruntungnya bisa dipertemukan dengan asisten yang rada alay (maaf. ahahaa) tapi ternyata sangat menginspirasi. *** Suatu sore yang dingin, aku dan zaki berjalan beriringan, mengarah ke lobby untuk menuju pintu keluar rumah sakit. Aku: jadi ikut SBMPTN tahun ini, zak? Zaki: jadi, bu.. Doain aja. Aku: semoga sukses ya, zak. Mau ngambil jurusan apa? Zaki: mau pertanian, bu. Hehe. Aku: wahh, jurusan papah aku, zak… kenapa? Zaki: karena aku pernah makan beras program raskin, bu… dan itu gak enak. Makanya aku pengen kuliah di jurusan pertanian, biar nanti bisa mengembangkan beras yang enak, tapi dengan harga yang terjangkau. Ahh, zaki membuat hati saya meneteskan air mata haru. *** Kemaren siang Fazar tiba-tiba duduk di sa...

#WeeklyQuestion - 2

Here’s my 2 nd weekly question from Ka Reny: “ What was meaningful story that happened lately in your life? ” Many things happened lately, especially in hospital where I’m working. But now I’ll answer that question by telling a part of my story in fighting for master’s degree. As you knew before, I had registered for Tes Potensi Akademik in Institut Teknologi Bandung at May 28, 2016. I chosen ITB because it’s easily reachable from my home, so I didn’t need to exaggeratedly afraid of coming late as when I took my test in Telkom University. I didn’t want that unexpected experience happened anymore. Two days before the day of the test, I checked ITB’s website to see where my class would be. How surprised I was! The test would be held in ITB Jantinangor, not in Bandung. ITB Jatingangor is further than Telkom University. I was so confused how to get there before 7 AM. I collected information of some alternative transportations included their price and schedule. Finally I m...

#WeeklyQuestion - 1: What did book you ever read and why?

Hello my faithful reader, I’m back~ About 2 weeks ago I made an appointment with Ka Reny. We would make a weekly question for each other and answer it by writing a post in our blog. “what did the book you ever read? And why did you read that book?” Okay this is the first (very late) answer of my weekly question. When I heard that question, some title of books appeared in my brain. And the reason why I read that book is just an usual answer, it’s like, ‘ the book was recommended by my friend ’, ‘ I like the writer ’, ‘ I like the cover ’, ‘ Toko Buku Gramedia gave me big discount price ’, or ‘ I like the synopsis and I became curious ’. Finally, last week I found the answer. My answer is Al-Qur’an. Yes, the book I ever and always read repeatedly, from the beginning until the last page, (insya Allah) till the end of my life. I like The Writer and The Writer is My God. The only one book which doesn’t have invalidity. The book which begs its reader to read, think and do good...