Langsung ke konten utama

Buku Harian dan Unggahan Media Sosial

Seseorang mengatakan, kita akan lebih mudah menulis ketika sedang bersedih. Iya, aku setuju dengannya. Kamu lebih suka menulis di social media, laptop, HP atau buku catatan? Kalau aku, sebenarnya lebih suka buku catatan, karena jadi lebih mudah mengekspresikan perasaan, kelihatannya jadi lebih indah ketika ditulis dengan berbagai warna. Namun ia harus pandai-pandai ku sembunyikan. Entah kenapa jika ada yang menemukan dan membacanya, aku merasa saaaaaangat malu (pengalaman hahaha). Padahal, menulis di media sosial pun akan dibaca banyak orang, tapi tidak semalu ketika buku catatan dibaca orang lain. 

Mungkinkah karena ketika sedang menulis di media sosial artinya kita sudah menanamkan warning di dalam otak bahwa tulisan ini akan dibaca banyak orang, maka tulislah apa yang membuatmu minimal tidak terlihat buruk di mata orang lain *no offense*. 

Sedangkan ketika menulis di buku catatan, bisa jadi, kita tidak perlu mempertimbangkan bagaimana asumsi orang lain terhadap diri kita. Maka bisa dengan bebas meluapkan perasaan dari A sampai Z. Sisi baiknya, kita jadi lebih jujur dengan diri sendiri. Beberapa hari, bulan, atau tahun kemudian, jika  membacanya kembali, maka akan timbul rasa lucu, terharu karena telah melewati banyak hal, norak, hingga menertawakan diri sendiri. Atas segala khilaf di masa lalu pun, kita bisa lebih jujur dalam mengevaluasi diri sendiri. 
That’s fun actually, hahaha.

But, everyone has their own way to express their own feeling. Just do what makes you feel better. :) 

Btw, sambil ketawa-ketawa sendiri, aku menemukan ini di deretan rak buku. Ternyata aku sudah suka menulis buku harian sejak jaman berseragam putih-biru. Dulu buku harian bergembok adalah yang paling aman. Saking amannya, sekarang aku pun lupa dimana kuncinya .__.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa NaCl 3% & Nutrisi Parenteral merupakan High-Alert Medications?

Hello, rekan sejawat farmasis Indonesia~ Semoga selalu semangat untuk belajar ya! * mendoakan diri sendiri hahaha *. Di malam minggu yang tengah diguyur hujan ini, saya ingin berbagi ilmu terkait 2 jenis dari sekian banyak obat yang digolongkan sebagai High-alert medications (berdasarkan ISMP – Institute for Safe Medications Practice), yaitu NaCl 3 % dan Sediaan Nutrisi Parenteral (atau sering disebut TPN, padahal belum tentu sediaan tersebut benar-benar sebagai nutrisi parenteral ‘total’, karena bisa jadi hanya sebagai nutrisi parenteral ‘parsial’). Jadi, mengapa NaCl 3% & Sediaan Nutrisi Parenteral merupakan bagian dari High-Alert Medications? Let’s find the answer!  Infus NaCl 3%   NaCl 3% adalah 3 gram NaCl dalam 1 L WFI, yang artinya 1 L mengandung Natrium 513 mEq/L dan Klorida 513 mEq/L. NaCl 3% diberikan pada kondisi hiponatremia. Dikutip dari Applied Therapeutics 10th Ed – Koda Kimble , 1/3 dari defisit natrium diberikan pada 12 jam pertama dengan kec...

Mengingat Kematian

Kemarin sekitar jam 4 sore, ada seorang pasien yang dibawa ke IGD, tetapi pada akhirnya pasien meninggal dunia. Ruang jenazah dibuka, pertanda siap menyambut keranda jenazah yang sebentar lagi akan didorong keluar dari lift. Ketika bekerja di Rumah Sakit, pemandangan ini bukanlah pemandangan asing. Tetapi kali ini ada perasaan lain yang memenuhi sistem limbik di otak. Pada saat itu jam 4 sore, adzan ashar dikumadangkan 1 jam yang lalu. Entah kenapa hatiku terus bergumam sendiri, sambil melangkah pelan menjauh dari ruang jenazah. Apa jadinya jika ketika maut datang, lantas belum sempat sholat ashar, sedangkan Allah sudah memberikan sekitar 1 jam setelah adzan sebelum maut menjemput Kalau nanti ditanyakan mengapa belum sempat sholat, harus jawab apa… Everyone wants a happy ending, and me either Please guide me to get that happy ending, ya Allah Teringat akan sebuah hadits yang sudah sering nampak di timeline. Abu Hurairah RA meriwayatkan, “Rasulullah SAW bersabda, “ ...

Buang Obat dengan Baik dan Benar

Hai, pembaca dimana pun anda berada. Pada tulisan kali ini seorang apoteker yang sedang duduk di sudut kota bandung ingin berbagi ilmu tentang kapan dan bagaimana caranya membuang obat dengan baik dan benar. Langsung aja ya. Kapan obat harus dibuang? Obat yang harus dibuang adalah obat yang telah melewati tanggal kadaluwarsa, telah dibuka dalam waktu yang meleihi BUD ( beyond use date ) dan obat rusak. Masing-masing obat memiliki standar persentase dari kadar yang tertera pada etiket/label. Standar ini telah diatur pada masing-masing monografi obat dalam Farmakope Indonesia. Obat yang telah kadaluwarsa akan memiliki kadar yang tidak memenuhi standar monografinya, sehingga akan memerikan efek yang tidak optimal. Lantas, obat kadaluwarsa tetap tidak boleh diminum karena industri farmasi sudah tidak bertanggung jawab terhadap kualitas obat. BUD adalah batas waktu penggunaan produk obat setelah diracik/disiapkan atau setelah kemasan primernya dibuka/dirusak. BUD untuk oba...