Langsung ke konten utama

Postingan

Lika-liku Kuliah S-2 dengan Biaya Mandiri

  Recent update : Aku gagal BPI LPDP untuk yang ketiga kalinya dan melepaskan partial scholarship dari Mahidol University. *** Ocy sekarang dimana? Aku sekarang sudah kembali menjadi anak kosan di Jogja. Kerja di sana? Kuliah Beasiswa? Bukan :) *** Kuliah S-2 memang bukan kewajiban, hanyalah sebuah opsi yang merupakan bagian kecil dari perjalanan hidup. Jangan pernah memilih kuliah S-2 hanya karna gengsi atau ikut-ikutan teman dekat. Kuliah S-2 tidaklah mudah, selain tesis, ada beban publikasi jurnal terakreditasi dan presentasi ilmiah di ajang internasional yang harus siap dikejar. Harus mengusahakan untuk tidak berlama-lama mengejar target karena UKT tidaklah murah (bagiku yang sudah tidak lagi bekerja, 16 juta per semester bukan harga yang murah). Sebelum pada akhirnya menginjakkan kaki di jogja, aku sempat bergelut dengan pikiranku sendiri. Aku gagal meraih beasiswa, tapi sudah terlanjur lolos seleksi universitas. Orang tuaku menyarankan u...

Sisi Lain Pseudoephedrine

Disclaimer: Tulisan ini tidak bermaksud mempromosikan obat merk tertentu. Merk obat yang disebutkan dalam tulisan ini hanyalah contoh merk obat dengan kandungan kombinasi Pseudoephedrine/Antihistamin yang beredar di Indonesia dan memang digunakan oleh pasien dalam cerita ini.   ***  Suatu malam yang dingin, saya sedang bertugas sebagai  apoteker penanggung jawab shift malam. Seperti biasa, saya berjaga di farmasi central lantai 2, bersama 2 orang asisten. Waktu menunjukkan hampir pukul 12 malam. Seorang asisten apoteker dari depo farmasi IGD lantai 1 menelepon. Asisten depo: Bu oci, di atas sibuk? Saya: Lumayan. Kenapa, wul? Asisten depo: Ada pasien pulang IGD. Obatnya Tremenza tablet aja sih bu, 3 kali sehari. Saya : Oke, siap meluncur. Asisten depo: Yakin, bu? Diserah sama aku aja gapapa kok, bu. Cuma Tremenza ini. Buat pilek kan, bu? Saya: Sesuai SOP, serah obat harus sama apoteker. Tunggu aja, aku gak akan lama. *** Sesampainy...

Cause Everything Has Changed!

Suatu senin pagi di Jogja, si W menceritakan tentang pertemuannya dengan si A, teman SD nya, tadi malam. W : S i A udah berubah banget, cy. Omongannya udah berbobot , aku berasa minim pengetahuan. Me : Wajar. Namanya juga manusia, pasti berubah karena pola pikirnya berkembang . *** Beberapa hari belakangan aku mulai ‘mempercantik’ CV akademik yang harus selesai sebelum 15 februari 2017. Karena ada data-data yang terlupa, aku memutar kembali ingatan ke masa kelulusan ujian apoteker. Pada saat itu kami diminta mengisi CV dalam bahasa inggris dengan menggunakan template yang sudah ditentukan oleh kampus. “ ahh ini kan dulu sudah pernah dibuat! Tinggal dicocokkan, ” pikirku, awalnya. Aku membuka file tersebut, membaca cepat 2 halaman CV berbahasa inggris tersebut. Dan perasaanku seperti ....... ingin menjedukan kepala ke dinding, tapi kasian kepalanya. “ how could I write my CV like this?! What a messy CV... ” Aku memalingkan wajah dari laptop, malu. D...

Just Keep Going On!

Pernahkan kamu merasa apa yang terjadi tidak sesuai dengan rencana dan harapanmu? Lantas kamu mencoba menerima dan berlapang dada. Kamu mencoba kembali bangkit dan menyusun rencana untuk mewujudkan harapan yang baru. Selang waktu berjalan, akhirnya datanglah hari dimana kamu menyadari bahwa harapan yang dulunya gagal kamu dapatkan memang bukanlah sesuatu yang terbaik untukmu. Aku berada di usia dimana teman-temanku ada yang sudah menikah, ada yang tengah menyiapkan pernikahannya, ada yang sedang sibuk-sibuknya menjadi orang tua, ada yang sudah travelling kemana-mana, ada yang sudah memiliki pekerjaan tetap, ada yang tengah dan telah menyelesaikan pendidikan magister. Lantas, aku sedang sibuk apa? Aku sudah seminggu menjadi pengangguran. Aku mengundurkan diri dari perusahaan, berdekatan dengan hari dimana aku dinyatakan gagal lolos seleksi beasiswa (lagi). Kadang, aku merasa tertinggal dibanding mereka. But hey, life is not a racing ! Everyone just has their own story. ...

Faiure

I still remember the day when I got an e-mail from LPDP, I’ve got failed on the first opportunity. Honestly I was sad, but I tried to tell my parent without crying. They encouraged me to try again, I said, “okay, maybe I will”.   Someone who rarely got failed would not be easy to make a deal with failure, and I was one of that kind of someone. But since I graduated from bachelor degree program, God taught me about it in several times. Definitely, one of lesson came through this failure. However, these failures successfully improve my personality. I thank You, God.  I tried to submit my application again. I hope good news will come in the end of October. I do believe about what’s written in Al-qur’an, “ Verily, Allah will not change condition of a people as long as they don’t change their state themselves ” – Ar-ra’d 13: verse 11  Therefore, if I get second opportunity, I should study hard and pray harder. Whatever the result in the end, that’s thoroughly His de...

Buang Obat dengan Baik dan Benar

Hai, pembaca dimana pun anda berada. Pada tulisan kali ini seorang apoteker yang sedang duduk di sudut kota bandung ingin berbagi ilmu tentang kapan dan bagaimana caranya membuang obat dengan baik dan benar. Langsung aja ya. Kapan obat harus dibuang? Obat yang harus dibuang adalah obat yang telah melewati tanggal kadaluwarsa, telah dibuka dalam waktu yang meleihi BUD ( beyond use date ) dan obat rusak. Masing-masing obat memiliki standar persentase dari kadar yang tertera pada etiket/label. Standar ini telah diatur pada masing-masing monografi obat dalam Farmakope Indonesia. Obat yang telah kadaluwarsa akan memiliki kadar yang tidak memenuhi standar monografinya, sehingga akan memerikan efek yang tidak optimal. Lantas, obat kadaluwarsa tetap tidak boleh diminum karena industri farmasi sudah tidak bertanggung jawab terhadap kualitas obat. BUD adalah batas waktu penggunaan produk obat setelah diracik/disiapkan atau setelah kemasan primernya dibuka/dirusak. BUD untuk oba...

Pulang

Seorang anak sedang asik bermain. Meski matahari sudah hampir di ujung senja, namun sang anak masih saja berlari di pantai, bermain kejar-kejaran bersama teman-temannya. Ia lupa pesan ibunya, “ kau boleh bermain, tapi pulanglah sebelum langit menjadi gelap. ” Anak itu terus berlari, tertawa riang. Hingga akhirnya ketika langkahnya terlalu cepat, ia terjatuh. Lututnya berdarah. Dia menangis, sosok ibu memenuhi pikirannya. Ia ingin ibunya ada di sana dan memeluknya. Dia pun berjalan pulang, sambil menyeka air mata. Ia berharap segera menemui sosok yang penuh kasih sayang, ibunya. Sesampainya di rumah, ia menangis di pelukan ibunya dan menceritakan apa yang ia alami. Luka di lututnya belum diobati, tapi dia sudah berhenti menangis, merasa tenang dan tidak lagi merasa sakit. Tanpa ia sadari, pelukan ibu menaikkan ambang nyeri di otaknya, menyuntikkan rasa damai tanpa perlu ada jarum menembus vena. *** Hidupku pun begini, dipenuhi banyak hal yang membuat aku berpikir, “ a...