Langsung ke konten utama

#WeeklyQuestion - 2

Here’s my 2nd weekly question from Ka Reny:
What was meaningful story that happened lately in your life?


Many things happened lately, especially in hospital where I’m working. But now I’ll answer that question by telling a part of my story in fighting for master’s degree. As you knew before, I had registered for Tes Potensi Akademik in Institut Teknologi Bandung at May 28, 2016. I chosen ITB because it’s easily reachable from my home, so I didn’t need to exaggeratedly afraid of coming late as when I took my test in Telkom University. I didn’t want that unexpected experience happened anymore.

Two days before the day of the test, I checked ITB’s website to see where my class would be. How surprised I was! The test would be held in ITB Jantinangor, not in Bandung. ITB Jatingangor is further than Telkom University. I was so confused how to get there before 7 AM. I collected information of some alternative transportations included their price and schedule. Finally I made this plan:
4 AM – wake up
4.30 AM – take a bath
5.00 AM – go to travel shuttle
5.30 AM – leave Bandung, on the way to Jatinangor

The Day of The Test
I woke up earlier than my alarm, maybe because I really didn’t want to be late. I wore my purple jacket and ordered a Go-Jeg. 20 minutes had been passed, but the driver hadn’t come. I cancelled my order and reordered another driver. About 5 minutes later, the driver came, but now it had been 5.30 AM. My heart constantly prayed and kept in mind that everything would be fine.

Fortunately, because of Allah’s permission, I could be in ITB Jatinangor before 7 AM.
I did my best during the test. But at almost the end of the test, I realized that unexpected matter happened. I reached the last page of exam’s book, I saw 2 last questions left. But how astounded I was, because I found answer sheet showed that my empty answer wasn’t on 2 last number, but 4 last number. It meant I skipped 2 questions, but I didn’t know which that questions and I had no time to find it. I realized how careless I was. I really wanted to cry but nothing I could do but pray.

1 week after the test, I accepted the result. Felt kinda sad because my score still bellow from qualification of my targeted university.

This story’s so meaningful for me, because it taught me a lot of lesson. It’s not a matter in making a plan and begging to Allah about what we really want. We need to pray and do our best. But don’t forget, it’s His right to grant it or no.

Maybe this occasion didn’t seem good. It’s not compatible with my wish. But it told me how to keep good prejudice to His plan. Maybe I still need to learn much, fight anymore, and pray harder. Rainbow will appear in the end, Insya Allah.

Bandung, June 19, 2016
In a rainy day, with a warm blanked

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa NaCl 3% & Nutrisi Parenteral merupakan High-Alert Medications?

Hello, rekan sejawat farmasis Indonesia~ Semoga selalu semangat untuk belajar ya! * mendoakan diri sendiri hahaha *. Di malam minggu yang tengah diguyur hujan ini, saya ingin berbagi ilmu terkait 2 jenis dari sekian banyak obat yang digolongkan sebagai High-alert medications (berdasarkan ISMP – Institute for Safe Medications Practice), yaitu NaCl 3 % dan Sediaan Nutrisi Parenteral (atau sering disebut TPN, padahal belum tentu sediaan tersebut benar-benar sebagai nutrisi parenteral ‘total’, karena bisa jadi hanya sebagai nutrisi parenteral ‘parsial’). Jadi, mengapa NaCl 3% & Sediaan Nutrisi Parenteral merupakan bagian dari High-Alert Medications? Let’s find the answer!  Infus NaCl 3%   NaCl 3% adalah 3 gram NaCl dalam 1 L WFI, yang artinya 1 L mengandung Natrium 513 mEq/L dan Klorida 513 mEq/L. NaCl 3% diberikan pada kondisi hiponatremia. Dikutip dari Applied Therapeutics 10th Ed – Koda Kimble , 1/3 dari defisit natrium diberikan pada 12 jam pertama dengan kec...

Obat yang Mempengaruhi Pembekuan Darah

Ketika terjadi pembekuan darah di pembuluh darah, maka aliran darah menuju jaringan tujuan akan terhambat. Hal ini dapat menyebabkan stroke, serangan jantung atau cilculatory crises . Sehingga pada pasien dengan risiko stroke dan serangan jantung kerap kali mendapatkan aspirin, klopidogrel atau dabigatran untuk mencegah terjadinya pembekuan darah. Kadang pasien bertanya, “ kan kemaren saya pakai aspirin, nah kenapa sekarang pakai warfarin? ” Ada juga keluarga pasien yang menolak penggunaan streptokinase karena harganya yang jutaan, sehingga pada akhirnya dokter memutuskan mengubah terapi menjadi enoxaparin. Lantas apa bedanya obat-obat tersebut? Karena katanya apoteker itu drugs expert (tapi gak berlaku untuk saya yang gak sengaja menjadi apoteker ini), mari kita review bersama. Antiplatelet Jika suatu atheroma (deposit lemak pada dinding arteri) terbentuk, platelet pada darah akan terstimulasi untuk mengumpul di sekitar area ini dan membentuk pembekuan darah. Kelompok obat...

Buang Obat dengan Baik dan Benar

Hai, pembaca dimana pun anda berada. Pada tulisan kali ini seorang apoteker yang sedang duduk di sudut kota bandung ingin berbagi ilmu tentang kapan dan bagaimana caranya membuang obat dengan baik dan benar. Langsung aja ya. Kapan obat harus dibuang? Obat yang harus dibuang adalah obat yang telah melewati tanggal kadaluwarsa, telah dibuka dalam waktu yang meleihi BUD ( beyond use date ) dan obat rusak. Masing-masing obat memiliki standar persentase dari kadar yang tertera pada etiket/label. Standar ini telah diatur pada masing-masing monografi obat dalam Farmakope Indonesia. Obat yang telah kadaluwarsa akan memiliki kadar yang tidak memenuhi standar monografinya, sehingga akan memerikan efek yang tidak optimal. Lantas, obat kadaluwarsa tetap tidak boleh diminum karena industri farmasi sudah tidak bertanggung jawab terhadap kualitas obat. BUD adalah batas waktu penggunaan produk obat setelah diracik/disiapkan atau setelah kemasan primernya dibuka/dirusak. BUD untuk oba...