Langsung ke konten utama

Aku dan Mereka

Entah gimana sejarahnya saya bisa masuk ke prodi ini, tapi yang ku ingat, aku ikutan tes ini karena nemenin Firdha (temen sebangku SMA). Dia yang niat banget masuk. Tapi ternyata malah aku yang terjerumus (eh?).

Tapi 2 tahun kemudian, aku mulai mencintai jurusanku. Haha. Sibuk kuliah, praktikum, organisasi, semuanya berjalan beriringan. I really enjoy my collage! But if sometime I have an empty time, it’s like an awkward moment.

Gak kerasa, udah semester V. tanggal 6 Februari 2012, masuk semester VI. Makin tua aja yah. Kali ini aku bakalan cerita tentang teman-temanku tersayang. Yah, mereka adalah salah satu alasanku menyukai prodi ini. Karena mereka, aku bisa ngerasa jadi manusia, di tempat yang aku gak punya siapa-siapa (eh, aneh ya kalimatnya? Abaikan!). lebih tepatnya, mereka ada di saat suka duka. Mungkin karena kami sering dikasih tekanan, kekeluargaan semakin meningkat (apasih ini?).

smoga akhir tahun ini bisa maju sidang proposal skripsi dan lulus seangkatan. Amiin.

Kami saling mengenal, berawal dari P2B:


Kaderisasi Indoor & Outdoor:


Praktikum PLLB (keliling beberapa kota dalam sehari, balik ke kampusnya malem):


Praktikum Farmakognosi I (Desa Galam):

Praktikum Farmakognosi II (Desa Salino):

Study Banding Jatim-Bali:

Makan bareng di tempat bundo:

Hidden Camera:
-masih maba, buka puasa bersama-


-nunggu bu ninis (masih maba)
-


-Mubes VI Himafarma-


-Sebelum pretes KFA II-


-lupa ini kapan. haha-


-Setelah TTD KRS semester VI-

Keterangan:


Pharmacy In Love:

Fannia & Ka Ijai

Mutia & Ka Abdi

Zia dan Iril

Heldy-Ka Aldi

sebenernya couple di farmasi masih ada diah-rendy, Kanon-Kajep, Ehya-Abang, Alfi-Ka cibi (siapa lagi ya? sorry lupaa) tapi males cari potonya. hehe

Cowok farmasi cuma segini:

Keluarga kami yang pergi duluan (2009):

Alm. Dede
moga kita ketemu lagi, we miss u so much..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa NaCl 3% & Nutrisi Parenteral merupakan High-Alert Medications?

Hello, rekan sejawat farmasis Indonesia~ Semoga selalu semangat untuk belajar ya! * mendoakan diri sendiri hahaha *. Di malam minggu yang tengah diguyur hujan ini, saya ingin berbagi ilmu terkait 2 jenis dari sekian banyak obat yang digolongkan sebagai High-alert medications (berdasarkan ISMP – Institute for Safe Medications Practice), yaitu NaCl 3 % dan Sediaan Nutrisi Parenteral (atau sering disebut TPN, padahal belum tentu sediaan tersebut benar-benar sebagai nutrisi parenteral ‘total’, karena bisa jadi hanya sebagai nutrisi parenteral ‘parsial’). Jadi, mengapa NaCl 3% & Sediaan Nutrisi Parenteral merupakan bagian dari High-Alert Medications? Let’s find the answer!  Infus NaCl 3%   NaCl 3% adalah 3 gram NaCl dalam 1 L WFI, yang artinya 1 L mengandung Natrium 513 mEq/L dan Klorida 513 mEq/L. NaCl 3% diberikan pada kondisi hiponatremia. Dikutip dari Applied Therapeutics 10th Ed – Koda Kimble , 1/3 dari defisit natrium diberikan pada 12 jam pertama dengan kec...

Obat yang Mempengaruhi Pembekuan Darah

Ketika terjadi pembekuan darah di pembuluh darah, maka aliran darah menuju jaringan tujuan akan terhambat. Hal ini dapat menyebabkan stroke, serangan jantung atau cilculatory crises . Sehingga pada pasien dengan risiko stroke dan serangan jantung kerap kali mendapatkan aspirin, klopidogrel atau dabigatran untuk mencegah terjadinya pembekuan darah. Kadang pasien bertanya, “ kan kemaren saya pakai aspirin, nah kenapa sekarang pakai warfarin? ” Ada juga keluarga pasien yang menolak penggunaan streptokinase karena harganya yang jutaan, sehingga pada akhirnya dokter memutuskan mengubah terapi menjadi enoxaparin. Lantas apa bedanya obat-obat tersebut? Karena katanya apoteker itu drugs expert (tapi gak berlaku untuk saya yang gak sengaja menjadi apoteker ini), mari kita review bersama. Antiplatelet Jika suatu atheroma (deposit lemak pada dinding arteri) terbentuk, platelet pada darah akan terstimulasi untuk mengumpul di sekitar area ini dan membentuk pembekuan darah. Kelompok obat...

Buang Obat dengan Baik dan Benar

Hai, pembaca dimana pun anda berada. Pada tulisan kali ini seorang apoteker yang sedang duduk di sudut kota bandung ingin berbagi ilmu tentang kapan dan bagaimana caranya membuang obat dengan baik dan benar. Langsung aja ya. Kapan obat harus dibuang? Obat yang harus dibuang adalah obat yang telah melewati tanggal kadaluwarsa, telah dibuka dalam waktu yang meleihi BUD ( beyond use date ) dan obat rusak. Masing-masing obat memiliki standar persentase dari kadar yang tertera pada etiket/label. Standar ini telah diatur pada masing-masing monografi obat dalam Farmakope Indonesia. Obat yang telah kadaluwarsa akan memiliki kadar yang tidak memenuhi standar monografinya, sehingga akan memerikan efek yang tidak optimal. Lantas, obat kadaluwarsa tetap tidak boleh diminum karena industri farmasi sudah tidak bertanggung jawab terhadap kualitas obat. BUD adalah batas waktu penggunaan produk obat setelah diracik/disiapkan atau setelah kemasan primernya dibuka/dirusak. BUD untuk oba...